Ketika saya kecil, penduduk kampung saya yang berada di lereng sebelah utara Gunung Prahu, Jawa Tengah,  biasa meminum air teh sebagai air minum harian. Mau pagi, siang, atau malam. Kami menyebutnya dengan nama wpucuk-daun-tehedang, (Jw. we didang yang berarti air yang dimasak).  Di pagi hari yang dingin, sambil menghangatkan badan di depan tungku, kami biasa meminumnya bersama potongan kecil gula aren. Ditemani singkong atau ubi jalar yang direbus atau digoreng oleh Si Emak.
Jika teh habis, Si Emak kadang menyuruhku untuk membuat teh.  Cukup mudah membuatnya. Pertama, petik pucuk daun teh di pohonnya secukupnya. Pohon teh di kampung banyak ditanam di pekarangan sebagai pagar hidup atau ditanam di kebun sebagai pembatas. Kedua, taruh di tampi lalu digilas pakai tangan hingga keluar airnya dan layu. Ketiga, jemur di bawah sinar matahari hingga kering dengan tanda teh sudah berwarna hitam.

Nah, Si Emak tinggal menyeduh dengan air panas saat membutuhkan wedang. Wedang yang dituang di teko atau ceret biasa ditaruh di atas meja ruang tamu di setiap rumah. Itu kebiasaan penduduk kampung.

Bagi kami, air minum itu ya air teh hingga saya melanjutkan sekolah ke SMA. Saat SMA saya mesti pindah dari kampung dan mengganti kebiasaan dengan air putih. Sederhananya: beradaptasi! Jadi, boro-boro minum minuman kaleng, minum air putih saja baru mengenal.

********

Berkenaan dengan air minum, saya mempunyai pengalaman yang sangat berkesan. Awal tahun 2000-an di Samarinda, pas lebaran, saya bersama teman beranjangsana ke rumah teman yang lain. Setelah basa-basi sejenak, teman tadi masuk kedalam dan keluar membawa beberapa cangkir air minum dan sebuah teko. Dia masuk lagi, untuk mengambil kue. Di situlah saya mengalami kejadian yang cukup memalukan. Saya mengira air minum yang disuguhkan adalah air putih biasa. Pikiran saya, lebaran-lebaran kok disuguhi air putih? Tega betul teman satu ini mengerjai teman sendiri.

Berhubung saya juga haus, saya langsung menghabiskan secangkir air minum tadi. Dan,  apa yang terjadi? Air minum tadi langsung menyembur keluar lewat hidung. Rupanya, air minum yang saya kira air putih ternyata Spr*te.

Begitulah akibatnya jika kita punya prasangka yang buruk. :V

Iklan