sakit
Sakit (sumber foto: merdeka.com)

Melak, tahun 2009. Hari itu kami berbahagia. Salah satu teman kami mempunyai anak pertamanya. Perempuan. Bayi kecil yang lucu dan menggemaskan dengan wajah khas Indonesia Timur.

Beberapa jam kemudian, kebahagiaan itu berubah menjadi kepanikan. Tengah malam, teman tadi berteriak, “tolong, tolong, tolong istriku!” Saat kami menjenguk kedalam rumahnya, istrinya sedang mengalami kejang-kejang. Matanya seperti menatap sesuatu. Mulut meracau dengan bahasa yang tidak kami pahami. Bahasa Tolaki, salah satu bahasa daerah yang ada di Sulawesi Tenggara. Sementara kami biasa menggunakan bahasa Indonesia, dan terkadang bahasa Kutai atau Banjar. Bahasa yang biasa dipakai di Kalimantan Timur.

Kakak ipar teman meminta kami untuk membacakan ayat-ayat Al-Quran dan Al-Ma’tsurat. Gejala yang dialami istri “didiagnosa” oleh kakak ipar teman terkena gangguan jin. Olehnya, kami membaca ayat-ayat tadi.

Hingga bakda Subuh, istri sang teman belum menunjukkan perubahan. Kami masih panik. Pikiran kami terbang ke mana-mana. Dengan setumpuk pertanyaan “bagaimana jika…” Ah, kami tidak seharusnya punya pikiran seperti itu. Tidak elok mendahului takdir Tuhan.

Akhirnya, kakak ipar teman memutuskan menelpon dokter yang biasa kami mintai tolong. Rumah beliau berjarak 20 km dari tempat tinggal kami. Berada di kampung Barong Tongkok. Dokter segera datang ke tempat kami. Beliau mengendarai Avanza bersama istrinya.

Setelah diperiksa, Sang Dokter memarahi kakak ipar teman. “Mengapa tidak segera menghubungi kami tadi malam? Keadaannya sungguh sangat kritis!” Kami diberi tahu bahwa dia terkena keracunan kehamilan (pre-eklamsia) yang biasa terjadi setelah melahirkan.  Tekanan darahnya begitu tinggi.

Akhirnya kami mengerti, dia bukan terkena gangguan jin namun terkena keracunan kehamilan. Alhamdulillah, keadaan berangsur membaik dan selang beberapa hari pulih.

Iklan