white-coffee
Secangkir kopi (pixabay.com)

Suatu hari, saya menyelesaikan tugas di kantor. Duduk di depan layar komputer jinjing, ditemani secangkir kopi sachet harga seribuan. Saya belum tahu, apa hubungan antara ketik-mengetik dengan secangkir kopi. Mungkin seperti langit dengan warna biru, atau dedaunan yang gugur dengan warna kuning. Yang jelas, hubungannya begitu dekat.

Tak lama kemudian, datang seorang teman. Setelah mengucap salam, beliau saya persilakan masuk. Duduk di kursi dan berhadapan dengan saya.

“Lho, Pak Kosim minum ‘Kopi Putih’?” 
“Iya, hampir tiap hari saya mengonsumsinya, memangnya ada apa, ya?”
“Pak Kosim, belum tahu ya? Bukankah itu haram?”
“Iyakah? Informasi dari mana?”
“Kan ada tuh sharing teman-teman di Fesbuk, katanya ‘Kopi Putih’ tuh mengandung lemak babi!”
“Oh Fesbuk, saya juga dapat Pak. Tapi saya ‘gak langsung menerima mentah-mentah. Saya cari informasi lebih lanjut. Saya khawatir kalau ini benar-benar haram, bagaimana? Saya sudah ketagihan hehehe…. “

Kemudian saya bukakan sebuah laman yang menerangkan bahwa LPPOM MUI sudah mengeluarkan sertifikat halal bagi produk ‘Kopi Putih’ (ini tautannya). Saya perlihatkan kepada beliau. Dan beliau membacanya. Akhirnya beliau mengerti mengapa saya minum.

Iklan