belanja-online
belanja online (Mediakonsumen.com)

Hari itu, istriku membuka-buka laman sosmed. Digulir, dibaca, digulir. Matanya tertahan pada foto-foto penawaran baju. Teman sosmednya jualan onlen rupanya. Iseng dia bertanya, berapa harganya, apa saja warnanya. Eh tertarik betulan.

“Dinego aja say… Pasti bisa say… Dinego sampai okay…” Terdengar jingle iklan di TV mininya. Entah ada hubungannya atau tidak, akhirnya memang ada nego dan “bisa” terjadi kesepakatan. Deal, 270.000 rupiah. Barang segera dikirim dari Tulung Agung ke Palembang setelah uang ditransfer. Lima hari sampai, katanya.

Mulailah menghitung hari, detik demi detik. Sudah lima hari, barang belum sampai juga. Teman sosmednya pun dikirimi pesan. Ada apa gerangan, mengapa barang belum sampai? “Sudah dicek di jasa pengiriman masih on-progress”, kata teman sosmednya.

Istriku masih sabar!

Kring (atau apalah bunyinya)! Terdengar notifikasi di ponsel istri. “Tolong kirimkan kembali alamat lengkapnya Bun…”, bunyi pesannya. Lho, barang sudah dikirim kenapa masih minta alamat? Ada yang tidak beres nampaknya.

Akhirnya saya pergi ke Jasa Pengiriman di Plaju, Palembang.
“Berapa nomor resinya, Pak?”, tanya petugas. Seorang remaja wanita yang tampilannya agak judes  mungkin lagi datang bulan.
“SUBIW000******”, jawab saya sambil mengeja.
Dia memasukkan kode itu di komputernya. “Pak, barangnya sudah dikirim 3 kali. Hari ini, ini, dan ini.” Dia memperlihatkan layar monitor kepadaku.  “Masalah terletak pada alamat yang tak lengkap, Pak. Kurir hingga kini belum menemukannya.” Ohhh, pantesan sudah sepuluh hari barang gak nyampai-nyampai, pikirku.

Saya cek penulisan alamat di layar monitor. Subhanallah! Setidaknya ada lima kata tidak tertulis di alamat. Kata samping, masjid, jamik, plaju, ilir, dan nomor rumah hilang! Alamak, bagaimana ini yang jualan onlen, bisa-bisanya tidak menulis alamat lengkap? Pantesan dia minta dikirimi alamat lagi. Dan, darah di kepalaku sepertinya mulai “menggelegak”, naik.

Saya tanya petugas Jasa Pengiriman bagaimana solusinya. Saya diberi nomor telepon kantor pusat di Palembang. “Telepon ke sini saja, Pak!”. Akhirnya saya telepon. Saya sebut nomor resi dan menjelaskan permasalahannya. “Ditunggu saja, Pak! Nanti kurir yang akan mengantar kembali”, kata orang di seberang telepon.

Begitulah. Hari ini pun masih menunggu. Gegara salah penulisan, harapan cepat sampai memudar.

Iklan