daun-kelor
Daun kelor (daunkelor.org)

Teluk Lombok, sebuah kampung yang berada di pesisir pantai Kutai Timur. Ombak pantainya tenang. Ambalatnya luas. Dan yang menarik, pasirnya berwarna putih. Pohon cemara juga banyak tumbuh di sini. Oleh karenanya, kampung ini menjadi salah satu tempat wisata di Kutai Timur.

Teluk Lombok, berjarak sekira 38 km dari Sangatta, ibukota Kutai Timur. Jalanan menuju ke sini merupakan jalanan perusahaan eksplorasi milik pemerintah, Pertamina EP. Tidak heran, meski tempat wisata, jalanannya tidak kunjung diaspal. Alasannya bukan jalan umum. Di sepanjang jalannya akan kita jumpai sumur-sumur dan pipa minyak.

Saya punya teman di sini, orang Bugis-Mandar. Sudah seperti saudara. Usianya terpaut 5-6 tahunan lebih muda dariku. Kami bertemu saat ia nyantri di Samarinda selama tiga tahun. Sebagaimana umumnya penduduk Teluk Lombok, dia berkebun, beternak sapi, cari ikan, menjual jasa penyewaan banana boat, dan jasa tempat mandi sebagai usahanya. Istrinya berjualan makanan dan minuman. Menjaring pembeli yang melepas penat di pantai.

Sebagai teman, saya sering diberi fasilitas gratis olehnya. Naik banana boat, ikan biji nangka bakar, dan makan-makan di rumahnya. Ah, baik sekali dia itu.

Suatu hari, saya membawa anak-anak ke pantai ini. Seperti biasa, pakaian dan bekal makanan kami taruh di rumahnya. Berenanglah kami di pantai, bermain pasir, dan naik kapal dayung. Saat azan berbunyi kami menghentikan kegiatan. Bersiap melaksanakan salat.

Nah, sampailah saat kami makan siang. Jangan tanya lauknya apa? Ikan laut akan selalu ada. Kami berkumpul di ruang tengah, duduk bersila. Namun, kali ini teman ragu-ragu menawarkan makanannya.
“Maaf Pak Kosim!”
“Yaa, Om! Ada apa?”
“Ibunya masak sayur ini, saya khawatir Kita tidak bisa makan.” Orang Sulawesi menyebut orang kedua dalam pembicaraan dengan kata Kita sebagai bentuk penghormatan.
“Memangnya sayur apa, Om?”
“Daun kelor, Pak!”
“Oh, gak papa..”
“Anu sih, biasanya orang Jawa gak mau makan sayur kelor hehehe….”
“Kalau saya Jawa yang bisa makan, Om!”
“Syukurlah kalau begitu…”

Sudah sering saya mendengar peribahasa “dunia tak selebar daun kelor”, namun jujur, baru kali itulah saya memakannya. Bukan karena apa, yah karena memang tidak ada pohon kelor yang saya temui sebelum ini.

Daun kelor, bagi sebagian orang yang mempunyai “ilmu tertentu” konon menghindari daun ini. Bisa tembus peluru atau apa katanya. Padahal daun ini kaya akan kandungan gizi dan bisa menjadi obat diabetes.

Iklan