Pengantin baru.  Saya dan istri menikah tanpa pacaran. Dijodohkan dan dipertemukan oleh Ustadz. Ada yang bilang, menikah kok seperti “membeli kucing dalam karung”. Tidak tahu siapa, mengapa, bagaimana, dan dari mana. Kata Rasulullah SAW, alasan menikah itu karena empat hal:  kecantikan, kekayaan, keturunan, dan kesalehan. Kita dianjurkan menikah karena alasan yang keempat. Itulah mengapa saya mempercayakan jodoh saya ke Ustadz. Kecantikan, kekayaan, dan keturunan bersifat ragawi, sedangkan kesalehan tidak.

Berbekal mahar berupa perangkat alat sholat, saya mengikuti prosesi ijab qabul. Duduk berhadapan dengan petugas Kantor Urusan Agama (KUA) Balikpapan Timur. Sengaja pakai mahar perangkat alat sholat dan bukan seperangkat sebab saya tak akan mampu memyediakan maharnya jika harus seperangkat sholat: tempat wudhu, sajadah, mukena, sampai bangunan musholla.
“Sah”, kata para saksi dan hadirin di Masjid Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Resmilah saya melepas status sebagai master of jomblo sekian tahun. Mengikut sunnah Rasulullah yang derajatnya sama dengan separuh agama. Sekali lagi, separuh agama!

Inilah salah momen terpenting seorang anak manusia dalam hidupnya. Dari lahir, bisa tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, bisa ngomong, masuk sekolah, mengaji, bertemu Ramadhan dan Lebaran, mimpi basah, dikhitan, kuliah, dan akhirnya menikah. Mungkin beginilah perasaan Ayah dan Ibu kita dulu.

Menikah merupakan salah satu cara menyatukan perbedaan. Saya orang Jawa, istri Sulawesi. Dari sini saja jelas sudah beda. Saya lahir di gunung, istri putri seorang pelaut. Saya suka tahu tempe, istri suka ikan bakar. Ah, banyak sekali perbedaannya. Namun, perbedaan kami bukanlah perbedaan antara medan magnet utara dan selatan, saling tolak-menolak. Perbedaan kami, justru saling melengkapi, saling handayani. Garwa, sebutan pasangan bagi orang Jawa merupakan kependekan dari sigaraning nyawa yang berarti belahan jiwa.

********

“Kamu kerja di mana? Lulusan apa? Berapa gajimu? Orang tuamu siapa?” Adalah sederet momok yang ditakuti oleh para pemuda yang akan menikah. Sementara orang tua tak kalah takutnya, “Mau kamu kasih makan apa anakku? Berapa panai’mu?”

Sekian belas tahun kami hidup bersama, membuktikan apa yang dikatakan orang bahwa Tuhan sudah mengatur rezeki manusia, mencukupi segala kebutuhannya.

Iklan